Sejarah Hari Kartini Beserta Gambar

kartini 1

Hari ini tanggal 21 April 2016 adalah hari Ibu Kita Kartini yang dimana beliau telah berjuang pada masanya agar para perempuan tidak dianggap lemah bagi kaum laki-laki, dengan adanya hari kartini ini kelasilmu.com akan membahas artikel tentang sejarang hari kartini.

Raden Adjeng Kartini atau lebih sering disebut Raden Ayu Kartini, beliau lahir di Jepara, Jawa Tengah, 21 April 1879 – dan meninggal di Rembang, Jawa Tengah, 17 September 1904 pada umur 25 tahun dan beliau adalah seorang tokoh Jawa juga termasuk Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini sering disebut-sebut sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi. Raden Adjeng Kartini adalah seseorang yang lahir dari kalangan priyayi atau bisa disebut kelas bangsawan Jawa, putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, bupati Jepara. Beliau ini adalah putri dari istri pertama, namun bukan istri utama dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, ia adalah putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama yang cukup terkenal di Telukawur, Jepara.

Pada mulanya Ayah Kartini adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial pada waktu itu mewajibkan seorang bupati harus beristerikan seorang bangsawan. Karena ibu dari kartini bukanlah bangsawan yang tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah menikah dengan keturunan dari raja Madura itu, ayah Kartini langsung diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.
kartini 4
Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari semua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan paling tua dari anak perempuan yang lainnya. Kakek kartini, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat menjadi bupati pada usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang laki-laki yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan mengenyam pendidikan di sekolah ternama yaitu di ELS (Europese Lagere School). Di sekolah ini Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, beliau harus tinggal di rumah dan berhenti sekolah karena pada masa itu perempuan usia 12 tahun keatas dianggap sudah bisa dipingit.

Karena Kartini mampu memahami bahasa Belanda, maka saat beliau keluar dari sekolahnya ia mulai belajar sendiri dan menulis surat untuk teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satu temannya yaitu bernama Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya pada masa sekolah. Kartini  melihat Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, dan Kartini tertarik pada kemajuan pola berpikir perempuan Eropa. Dan mulai timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat pada waktu itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.
kartini 3
Pada waktu itu Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, dan ia juga menerima leestrommel atau paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan. Yang Di antaranya ada majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, dan juga ada majalah wanita Belanda yang bernama De Hollandsche Lelie. Melihat itu semua Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan tulisan itupun dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya menampakan Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, dan ia sambil membuat catatan-catatan atas apa yang dia baca. Terkadang Kartini juga menyebutkan salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat yang sangat memotivasi.

Perhatiannya ini tidaklah untuk emansipasi wanita saja, tetapi untuk masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan seorang wanita agar yang berusaha memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Dari beberapa buku yang dibaca oleh Kartini sebelum berumur 20 tahun, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang buku itu sudah dibaca olehnya pada November 1901 sebanyak dua kali. Dan juga buku De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semua buku tersebut menggunakan berbahasa Belanda.
kartini 2
Setelah Kartini beranjak dewasa, Kartini dijodohnkan oleh orang tuanya untuk menikah dengan bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya akhirnya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan oleh suaminya dan didukung untuk mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka. Anak pertama dan sekaligus terakhir Kartini yang bernama M Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang dimana undang-undang itu menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, yang untuk diperingati oleh setiap warga indonesia setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.

Itulah sedikit cerita tentang asal usul sejarah terjadinya hari kartini, mungkin bisa menjadi pengetahuan bagi pembaca dan semoga bisa bermanfaat bagi semuanya. Baca juga artikel kelasilmu.com yang lainnya yaaa.

Penjelasan dari :

geguritan kartini, geguritan tema kartini, pengaruh globalisasi pada bidang politik yang paling menonjol, pengaruh globalisasi terhadap penegakan ham, geguritan ra kartini, lukisan ra kartini
Sejarah Hari Kartini Beserta Gambar | yusuf | 4.5